Penantang ombak
Pasir putih, langit biru, dan pemandangan indah, merupakan kehidupan sehari-hari Dani, Iwan dan Rian. Mereka adalah mahasiswa S1 Teknik di ITB. Selain kampus, Bali adalah tempat ke-dua bagi mereka dalam mencari jati diri. Berselancar tak pernah luput dari ingatan. Tak heran, kulit mereka yang dulu putih berubah menjadi kelam.
Setiap minggu pertama awal bulan, mereka melakukan perjalanan ke pulau dewata. Itupun jika uang yang diperoleh cukup. Tuntutan zaman, membuat mereka tak pernah bergantung lagi dengan kiriman orang tua. Iwan mendapatkan pekerjaan sebagai penulis cerpen pada majalah terkenal. Rian sebagai asisten dosen. Sedangkan Dani sedikit di bawah sahabat-ahabatnya, karena ia bekerja sebagai koki di sebuah kedai makanan. Meski begitu, masakan Dani sungguh lezat. Tak heran kedai makanannya laris.
***
Di cafe kampus, ”Hei, kita kan dah mau tamat, loe dah buat skripsi belum?”, Iwan membuka suara.
”Ya belum lah, masih bingung gw. Judulnya aja belum tau”, Rian membalas.
”Kalau loe gimana dan?”, Iwan balik bertanya.
Tak ada jawaban. Dani terlihat sibuk memperhatikan seorang cewek di hadapannya.
”Dani?”.
”Eh sorry, loe bilang apaan tadi?”.
”Huuft, loe udah bikin skripsi?”.
”Ooo, udah sih. Tapi masih dikit. Emangnya kenapa?”, Dani balik bertanya.
”Gak, gw nanya aja”.
Suasana kembali hening.
”Eh, loe punya acara nggak, buat perpisahan kita? Soalnya sebentar lagi kita pasti sibuk sama skripsi masing-masing”, kali ini Rian yang membuka suara.
”Menantang ombak pastinya”, jawab Iwan
”Ha?”, Rian dan Dani serentak.
”Maksud gw surfing bodoh!”, Iwan menjelaskan.
”Gw kira apaan. Loe berbelit-belit sih!”, balas Rian kembali.
”Itu sih udah biasa. Gw punya ide. Kesini loe, biar gak kedengaran orang lain”, bisik Dani dengan tampak serius.
”Lebay banget sih loe”, timpal Iwan tapi tetap mematuhi perintah Dani.
”Kita tetap surfing tapi kali ini kita nginap. Biasanya kan cuma sehari doank”, ucap Dani.
”Maksud loe kita booking hotel gitu? Mahal dodol!”, timpal Rian tiba-tiba.
”Gw belum siap ngomong! Ya nggaklah, kita buat aja tenda ditepi pantai. Trus kita bisa makan-makan malamnya. Nah, sekarang tinggal waktunya. Menurut gw sih mending kita perginya jum’at dua minggu lagi. Soalnya, hari sabtunya kita pasti bolos. Kan nggak lucu juga kalau kemping cuma sehari doank”, jelas Dani lagi.
”Mantap banget ide loe!”, teriak Rian tiba-tiba.
Sontak semua isi cafe mengarah kepada mereka bertiga. Dengan menahan malu, mereka langsung minggat dari cafe tersebut.
”Besok jam dua kumpul di kedai gw. Jangan lupa loe!”, bisik Dani sebelum pergi.
***
Malamnya di tempat kos masing-maing, semua melakukan hal yang berbeda. Iwan seperti biasa memainkan gitarnya. Ia mencoba membuat lagu untuk seorang mahasiswi cantik di kampus yang tak lain adalah putri dari ibu kosnya sendiri. Rian sedang merancang skripsi namun pikirannya melayang jauh melewati pegunungan dan berhenti di rumah Annisa, tetangga sekaligus kembang desa yang dari dulu ditaksirnya. Sedangkan Dani serius membuat makalah skripsi dan sesekali mengingat gadis manis yang ditemuinya di cafe tadi siang.
Gadis itu bernama Suci, anak pak Mahmud penjual batagor di cafe kampus juga mahasiswi semester 1 teknik ITB. Sebelumnya Dani tak pernah percaya dengan yang namanya cinta apalagi cinta pada pandangan pertama. Ia lebih memilih fokus kepada kuliah agar cepat-cepat wisuda dan mendapatkan pekerjaan. Dan sekarang ia mengalaminya sendiri.
Esoknya di kedai makan Dani, semua datang dan sepakat rencana menantang ombak diadakan dua minggu lagi. Dan tempatnya tentu saja di Bali. Tak ada masalah yang berarti ketika mereka memutuskan hal tersebut. Padahal, bahaya sedang mengintai diam-diam.
***
Jum’at, 27 agustus 2008
Para penantang ombak bersiap berangkat. Tak ada yang aneh dalam bawaan mereka, hanya saja Dani terlihat membawa perlatan masak.
”Eh, loe semua gak takut nginap di tepi pantai kan?”, Dani membuka suara.
”Ya nggaklah. Emangnya kita apaan, tidur di pasir aja takut! Ya kan wan?”, balas Rian.
”Yoi”, sambut Iwan.
Sesampai di Bali, cuaca cukup cerah membuat adrenalin berselancar ke-tiga mahasiswa tersebut tinggi. Mereka langsung surfing hingga matahari terbenam.
”Dan, malam ini kita makan apaan?”, tanya Iwan karena perutnya sudah terasa lapar.
”Loe tenang aja, gw udah masak nasi goreng spesial. Tinggal ambil aja tu di dalam tenda”, jawab Dani.
Sahabat-sahabatnya langsung menyerbu tenda. Malam itu sungguh indah. Selepas makan, mereka bernyanyi hingga terlelap.
Mendekati tengah malam, angin sungguh kencang di tepi pantai membuat Dani tak bisa tidur dan memutuskan untuk berjalan-jalan menuju laut. Ia tak sadar bahwa air laut sedang pasang. Dan dalam hitungan detik, ombak yang lebih tinggi dari badannya bergulung datang ke arahnya. Dani hanya dapat berteriak membuat sahbat-sahabatnya terbangun.
Iwan dan Rian langsung berlari mengejar Dani yang hampir tenggelam. Beruntung Dani dapat diselamatkan. Tetapi, ombak yang lain datang menyeret Iwan dan Rian sekaligus. Tak ada yang dapat di lakukan Dani dan dalam sekejap sahabat-sahabatnya telah hilang di telan bumi.
Dani hanya menatap kosong lautan. Ia memang beruntung dapat di selamatkan namun harus di bayar mahal dengan kepergian sahabat-sahabat yang telah menyelamatkannya. Sepertinya tuhan bermaksud meninggalkan ia seorang diri untuk menceritakan pengalaman kehilangan sahabat itu sungguh berat....